Ketika seseorang mempelajari Al Qur'an dengan seksama, dia akan menemukan nilai-nilai kebenaran yang tiada bandingnya. Al Qur'an adalah mata kebenaran yang tidak pernah kering sepanjang masa. Pelepas dahaga bagi ulama, penjelas bagi fuqoha dan penerang jalan ghuroba. Al Qur'an juga merupakan obat yang tak meninggalkan sakit, cahaya yang tidak memberi tempat bagi kegelapan dan ikatan kokoh yang tidak mudah terlepaskan serta benteng yang tak pernah rapuh pertahanannya. Al Qur'an juga cahaya yang tak pernah padam apinya, lautan dalam yang tak terjangkau dasarnya, atau jalan yang takkan tersesat siapa yang menitinya serta taman yang takkan pernah bosan seseorang berada didalamnya.
Namun demikian, adakalanya orang tidak dapat merasakan terangnya cahaya mentari atau makan lezat yang dihidangkan. Hal itu bukan karena mentari atau makanannya yang salah, akan tetapi manusianya yang sedang sakit mata atau pahit dimulutnya. Anehnya, seringkali bukan mata atau mulut yang diobati, tapi matahari dan makanan yang disalahkan. Demikian pula halnya dengan Al Qur'an. Betapa banyak orang yang mengambil ilmu, hikmah, serta ibroh darinya. Namun ada juga orang yang meninggalkan atau menjauhkan Al Qur'an sebagaimana disampaikan Rasul :'Ya Rabb, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini sesuatu yang tidak diacuhkan.' [QS 25:30]
Imam Ibnul Qoyyim menjabarkan makna hajr [tak acuh] adalah sebagai berikut :
1. Tidak beriman kepadanya dan tidak mendengarkannya.
2. Tidak mengamalkan isinya dengan tidak memperhatikan halal haram yang ada pada
nya, meskipun dia membaca dan beriman padanya.
3. Tidak menjadikannya sebagai hakim [penentu] dan tidak menjadikannya
sebagai pedoman dan penunjuk jalan dalam seluruh aspek kehidupan.
4. Tidak mentadabburi dan memahami serta mengetahui isinya, sebagaimana
yang diinginkan oleh Allah.
5. Tidak menjadikannya penawar bagi setiap penyakit yang ada di hati
seperti syirik, nifaq, hasad dll.
Al Qur'an adalah kekuatan. Dia lebih tajam dari pedang dan lebih kokoh dari batu karang. Namun, kekuatan Al Qur'an harus diimbangi oleh kekuatan nafs [diri]. Ketika Al Qur'an dibawa oleh Nabi Muhammad saw dan sahabatnya, mereka mampu menjadi umat terbaik sepanjang sejarah peradaban manusia. Tetapi ketika dia dibawa oleh si kerdil, yang terlihat hanyalah lembaran-lembaran tak bernyawa dan tulisan yang tak bermakna. 'Sesungguhnya Al Qur'an ini memberikan petunjuk kepada [jalan] yang lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal sholeh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.' [QS 17:9]
Dua hal yang hendaknya diperhatikan saat bermu'amalah dengan Al Qur'an :
1. Membaca Al Qur'an sambil memahami dan mentadabburi maknanya.
Ali bin Abi Thalib berkata : 'Tidaklah baik, ibadah yang tidak dilandasi dengan fiqih dan qiroah yang tidak diiringi dengan tadabbur.'
Allah pun mempertanyakan orang yang membaca Al Qur'an tanpa tadabbur dengan firmannya : 'Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al Qur'an ataukah hati mereka terkunci?' [QS 47:24]
2. Mengamalkan akhlaq al Qur'an. Diantara akhlaq al Qur'an adalah :
a. al 'afw [pemaaf]
b. al Karom [dermawan]
c. at Tawadhu [tahu diri atau rendah hati]
d. al I'tibar [mengambil 'ibroh atau pelajaran]
e. ash shabr [sabar]
Al Qur'an adalah sumber kedamaian dan kebahagiaan. Rasulullah saw, sahabat beliau serta generasi setelah mereka telah menemukan dan membuktikannya. Al Qur'an yang kita pegang sama dengan Al Qur'an yang mereka baca dan amalkan. Yang berbeda adalah antara kita dengan mereka. Namun jika kita ingin mengulang kisah sukses mereka, itu terserah kepada kita. Bukankah sarana yang mereka miliki juga ada pada kita ? Semoga Allah membuka hati kita dalam rangka membaca, memahami, mentadabburi, dan mengamalkan kitab-Nya. Amiin. (Taken from Bulletin Jumat IMSA. ARTIKEL - Ahad, 4 Mei 2003)
(c) 2001-2002 Masjid Manarul 'Ilmi Online.
note : amalkan ilmu, sampaikan walau satu ayat, salah satu amalan yang terus mengalir walau seseorang sudah mati adalah ilmu yang bermanfaat.
TUJUH MACAM PAHALA YANG DAPAT DINIKMATINYA SESUDAH MATI
Dari Anas r.a. berkata bahawa ada tujuh macam pahala yang dapat diterima seseo rang itu selepas matinya, yakni :
1. Siapa yang mendirikan masjid maka ia tetap pahalanya selagi masjid itu
digunakan orang untuk beramal ibadat di dalamnya.
2. Siapa yang mengalirkan air sungai selagi ada orang yang minum daripadanya.
3. Siapa yang menulis mushaf ia akan mendapat pahala selagi ada orang yang
membacanya.
4. Orang yang menggali perigi selagi ada orang yang menggunakannya.
5. Siapa yang menanam tanaman selagi ada yang memakannya baik dari manusia atau
burung (hewan).
6. Mereka yang mengajarkan ilmu yang berguna selama ilmu itu diamalkan oleh orang
yang mempelajarinya.
7. Orang yang meninggalkan anak yang soleh yang mana si anak selalu mendoakan
kedua orang tuanya dan beristighfar baginya, yakni anak yang selalu diajari
ilmu Al-Qur'an maka orang yang mengajarnya akan mendapat pahala selagi anak
itu mengamalkan ajaran-ajarannya tanpa mengurangi pahala anak itu sendiri.
Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah S.A.W. telah bersabda : "Apabila telah mati anak Adam itu, maka terhentilah amalnya melainkan tiga macam :
1. Sedekah yang berjalan terus (Sedekah Amal Jariah)
2. Ilmu yang berguna dan diamalkan.
3. Anak yang soleh yang mendoakan baik baginya.
TUJUH KALIMAT
Barang siapa hafal tujuh kalimat, ia terpandang mulia di sisi Allah dan malaikat
serta diampuni dosa-dosanya :
1. Mengucap Bismillah pada tiap-tiap hendak melakukan sesuatu.
2. Mengucap Alhamdulillah pada tiap-tiap selesai melakukan sesuatu.
3. Mengucap Astagfirullah jika lidah terselip perkataan yang tidak patut
4. Mengucap Insya Allah jika merencanakan berbuat sesuatu di hari esok
5. Mengucap La haula wala quwwata illa billah jika menghadapi sesuatu tak
disukai dan tak diingini.
6. Mengucap Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun jika menghadapi dan
menerima musibah.
7. Mengucap La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah sepanjang siang malam sehingga tak terpisah dari lidahnya (dari tafsir hanafi).